Setiap tanggal 6 Oktober, dunia memperingati Hari Cerebral Palsy Sedunia. Tahun ini, RS Kardiologi Emirates Indonesia (RS KEI) mengangkat pesan bahwa setiap individu berhak tumbuh, berkarya, dan mendapatkan kesempatan yang setara. Sebagai rumah sakit jantung, kami juga ingin mengajak masyarakat melihat sisi yang jarang dibicarakan: bagaimana kesehatan jantung dan pembuluh darah turut menentukan kualitas hidup para penyandang cerebral palsy (CP) sepanjang usia.
Apa Itu Cerebral Palsy?
Cerebral palsy adalah sekelompok gangguan yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk bergerak, menjaga keseimbangan, dan mempertahankan postur. Para ahli mendefinisikannya sebagai gangguan permanen pada perkembangan gerak dan postur yang disebabkan oleh gangguan non-progresif pada otak janin atau bayi yang sedang berkembang [1]. Dengan kata lain, CP berkaitan dengan perkembangan atau kerusakan otak sejak sebelum lahir hingga masa awal kehidupan.
Dampak CP sangat beragam. Sebagian orang hanya mengalami keterbatasan ringan, sementara yang lain membutuhkan dukungan dalam aktivitas sehari-hari. CP tidak bersifat progresif, artinya kerusakan otaknya tidak bertambah parah seiring waktu. Meski begitu, kebutuhan seseorang dapat berubah sepanjang hidup. Karena kini sebagian besar anak dengan CP dapat bertahan hingga dewasa, CP tidak lagi dipandang semata sebagai kondisi masa kanak-kanak [3].
CP Bukan Penyakit Jantung, Namun Jantung Perlu Perhatian
Perlu ditegaskan: CP bukan penyakit jantung. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa seiring bertambahnya usia, penyandang CP memiliki beban penyakit tidak menular yang lebih tinggi dibandingkan populasi umum, termasuk penyakit kardiovaskular [2]. Pada studi kohort besar di Inggris yang membandingkan sekitar 1.700 orang dewasa dengan CP dan sekitar 5.100 orang dewasa tanpa CP, risiko penyakit kardiovaskular tercatat lebih tinggi pada kelompok CP (hazard ratio 1,76) [3]. Penelitian lain dari kelompok yang sama menemukan angka kematian akibat penyakit kardiovaskular yang lebih tinggi pada orang dewasa dengan CP dibandingkan populasi umum [4].
Mengapa demikian? Penelitian dan pengalaman klinis menunjukkan beberapa faktor yang saling berkaitan.
1. Aktivitas fisik dapat lebih terbatas. Hambatan gerak, akses fasilitas, nyeri, atau kelelahan dapat membuat sebagian penyandang CP lebih sulit melakukan aktivitas fisik secara rutin. Sebuah studi pada 43 orang dewasa dengan CP spastik bilateral di Belanda menemukan tingkat kebugaran aerobik dan aktivitas fisik sehari-hari yang rata-rata hanya sekitar 80% dan 78% dari nilai rujukan [6]. Kurang gerak merupakan faktor risiko yang sudah dikenal luas untuk penyakit kardiovaskular.
2. Risiko kardiovaskular perlu dipantau. Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang menggabungkan data individual dari 11 kohort internasional (444 orang dewasa dengan CP) menemukan prevalensi hipertensi sekitar 28,7%, dengan tekanan darah yang cenderung lebih tinggi pada mereka yang berusia di atas 40 tahun. Indeks massa tubuh, denyut jantung istirahat, dan konsumsi alkohol berkaitan dengan tekanan darah dan hipertensi. Para peneliti menekankan pentingnya skrining tekanan darah sejak usia dewasa muda [5]. Studi di Belanda tersebut juga menemukan bahwa pada kelompok dewasa muda, sekitar 28% mengalami hipertensi dan 44% berada pada kisaran prehipertensi, meskipun risiko kematian kardiovaskular 10 tahun ke depan masih rendah [6]. Artinya, ada peluang besar untuk mencegah sejak dini.
3. Setiap orang berbeda. Risiko tidak sama pada setiap penyandang CP. Kondisi kesehatan, kemampuan bergerak, usia, pola hidup, dan penyakit penyerta perlu dinilai secara individual. Bahkan cara mengukur status gizi pun perlu kehati-hatian: pada orang dewasa dengan CP, indeks massa tubuh saja belum tentu menggambarkan komposisi tubuh yang sebenarnya, sehingga penilaian oleh tenaga kesehatan menjadi penting [6,7].
Menjaga Kesehatan Jantung Sejak Dini
Kabar baiknya, banyak faktor risiko tersebut dapat dikenali dan dikelola. Berikut tiga langkah dasar yang dapat dilakukan:
- Pemeriksaan kesehatan berkala. Pantau tekanan darah, berat badan, serta faktor risiko metabolik sesuai usia dan kondisi masing-masing. Temuan penelitian mendukung perlunya pemeriksaan tekanan darah dimulai sejak usia dewasa muda [5,6].
- Tetap aktif sesuai kemampuan. Aktivitas fisik dan latihan yang disesuaikan dengan kemampuan membantu menjaga kebugaran, kekuatan, dan kesehatan kardiovaskular. Rekomendasi aktivitas fisik khusus untuk penyandang CP telah disusun oleh para ahli, dan sebaiknya diterapkan dengan bimbingan tenaga kesehatan atau terapis agar aman dan sesuai kondisi [8].
Gizi seimbang. Pola makan bergizi seimbang membantu menjaga berat badan serta mengurangi faktor risiko hipertensi, diabetes, dan penyakit kardiovaskular. Kebutuhan gizi tiap individu dapat berbeda, sehingga konsultasi dengan dokter atau ahli gizi sangat dianjurkan.
Dukung dengan Empati dan Aksi Nyata
Kesehatan jantung penyandang CP bukan hanya tanggung jawab individu dan keluarganya. Lingkungan yang inklusif membuat gaya hidup aktif dan sehat menjadi mungkin. Ada tiga bentuk dukungan yang dapat kita lakukan bersama:
- Ciptakan ruang inklusif. Sediakan akses fasilitas umum yang ramah disabilitas agar penyandang CP dapat bergerak aktif dengan aman.
- Edukasi publik. Hilangkan stigma dan tingkatkan kesadaran bahwa penyandang CP berhak hidup sehat, bahagia, dan berdaya.
- Dukungan bagi pengasuh (caregiver). Keluarga yang merawat penyandang CP juga membutuhkan dukungan mental dan fisik. Studi pada pengasuh anak dengan CP melaporkan adanya tantangan kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, dan stres, terutama bila anak sering membutuhkan perawatan medis akut atau rawat inap [9].
Jantung yang Sehat, Hidup yang Kuat untuk Semua
Memperingati Hari Cerebral Palsy Sedunia 2026, RS KEI mengajak seluruh masyarakat untuk menyatukan langkah dan ketukan hati dalam mendukung para penyandang Cerebral Palsy meraih kualitas hidup terbaik mereka. Jantung yang sehat adalah bagian dari hidup yang kuat, untuk semua.
Jika Anda atau keluarga penyandang CP ingin berkonsultasi mengenai kesehatan jantung dan pembuluh darah, Poliklinik Jantung dan Pembuluh Darah RS KEI siap membantu. Buat janji temu lebih praktis dan cepat melalui aplikasi KLIK Kei Aja (tersedia di Google Play dan App Store), atau hubungi Customer Care di 0811-2777-760. Untuk kondisi gawat darurat, hubungi 0857-2673-6301.
Catatan: artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan serta nasihat dokter. Risiko dan kebutuhan setiap individu perlu dinilai oleh tenaga kesehatan.
Referensi
- Rosenbaum P, Paneth N, Leviton A, Goldstein M, Bax M, Damiano D, et al. A report: the definition and classification of cerebral palsy April 2006. Dev Med Child Neurol Suppl. 2007;109:8-14.
- Ryan JM, Allen E, Gormley J, Hurvitz EA, Peterson MD. The risk, burden, and management of non-communicable diseases in cerebral palsy: a scoping review. Dev Med Child Neurol. 2018;60(8):753-64.
- Ryan JM, Peterson MD, Matthews A, Ryan N, Smith KJ, O'Connell NE, et al. Noncommunicable disease among adults with cerebral palsy: a matched cohort study. Neurology. 2019;93(14):e1385-96.
- Ryan JM, Peterson MD, Ryan N, Smith KJ, O'Connell NE, Liverani S, et al. Mortality due to cardiovascular disease, respiratory disease, and cancer in adults with cerebral palsy. Dev Med Child Neurol. 2019;61(8):924-8.
- Noten S, van den Berg-Emons RJG, Thorpe DE, Heyn PC, Marciniak CM, McPhee PG, et al. Blood pressure in adults with cerebral palsy: a systematic review and meta-analysis of individual participant data. J Hypertens. 2021;39(10):1942-55. doi:10.1097/HJH.0000000000002912
- van der Slot WMA, Roebroeck ME, Nieuwenhuijsen C, Bergen MP, Stam HJ, Burdorf A, et al. Cardiovascular disease risk in adults with spastic bilateral cerebral palsy. J Rehabil Med. 2013;45(9). doi:10.2340/16501977-1185
- Peterson MD, Haapala HJ, Hurvitz EA. Predictors of cardiometabolic risk among adults with cerebral palsy. Arch Phys Med Rehabil. 2012;93(5):816-21.
- Verschuren O, Peterson MD, Balemans ACJ, Hurvitz EA. Exercise and physical activity recommendations for people with cerebral palsy. Dev Med Child Neurol. 2016;58(8):798-808. doi:10.1111/dmcn.13053
- Kouther DA, Shakir MO, Alhumaidah RA, Jamaluddin HA, Jaha AY, Alshumrani MJ, et al. Factors influencing the mental health of caregivers of children with cerebral palsy. Front Pediatr. 2022;10:920744. doi:10.3389/fped.2022.920744
