Pendahuluan: Dua Organ, Satu Nasib
Setiap tanggal 30 September, dunia memperingati Hari Hati Sedunia (World Liver Day) sebagai momentum untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan hati (liver). Namun tahukah Anda, organ hati yang selama ini dikenal sebagai “pabrik kimia” tubuh ternyata memiliki hubungan yang sangat erat dengan kesehatan jantung? RS Kardiologi Emirates Indonesia mengangkat topik ini karena semakin banyak bukti ilmiah menunjukkan bahwa gangguan pada hati, terutama penumpukan lemak di hati, dapat menjadi “alarm dini” bagi risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.
Banyak orang menganggap hati dan jantung sebagai dua organ yang berdiri sendiri. Padahal, keduanya memiliki hubungan yang erat melalui aliran darah, metabolisme lemak, gula, dan proses peradangan dalam tubuh. Ketika hati “sakit”, jantung sering kali ikut menanggung akibatnya meski gejalanya tidak langsung terasa.
Mengenal Fungsi Hati bagi Tubuh
Hati adalah organ terbesar kedua di dalam tubuh manusia setelah kulit, dengan berat sekitar 1,5 kilogram pada orang dewasa. Organ ini memiliki lebih dari 500 fungsi penting, di antaranya:
- Menyaring racun dan sisa metabolisme dari darah.
- Mengatur kadar gula darah dengan menyimpan dan melepaskan glikogen.
- Mengatur metabolisme kolesterol dan lemak dalam tubuh serta memproduksi protein pembekuan darah.
- Mengolah lemak yang berasal dari makanan menjadi energi atau cadangan lemak.
- Membantu proses pencernaan melalui produksi empedu.
Karena hati berperan penting dalam mengatur metabolisme gula dan lemak, gangguan metabolisme yang berkaitan dengan kesehatan hati, terutama pada perlemakan hati, juga dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah).
Perlemakan Hati: “Jembatan” Menuju Penyakit Jantung
Kondisi yang banyak diteliti kaitannya dengan kesehatan jantung adalah perlemakan hati yang kini dikenal dengan istilah Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD). Istilah ini diperkenalkan untuk menggambarkan perlemakan hati yang berkaitan dengan faktor risiko metabolik, seperti obesitas, resistensi insulin, dan diabetes, yang juga berhubungan erat dengan penyakit kardiovaskular. Istilah MASLD menggantikan istilah sebelumnya, Non-Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD), dalam nomenklatur yang diperkenalkan melalui konsensus internasional pada tahun 2023. Perubahan istilah ini sengaja dilakukan untuk menegaskan bahwa perlemakan hati berakar dari gangguan metabolik, seperti kegemukan, resistensi insulin, dan diabetes faktor yang sama yang juga menjadi biang keladi penyakit jantung.
Prevalensi kondisi ini tergolong tinggi. Perlemakan hati merupakan salah satu penyakit hati kronis yang paling umum dan banyak ditemukan pada masyarakat, terutama pada mereka yang memiliki faktor risiko metabolik seperti obesitas, diabetes, dan gangguan metabolisme lemak.
Fakta mengejutkan: sebagian besar penderita perlemakan hati justru tidak meninggal karena komplikasi hati itu sendiri, melainkan karena penyakit kardiovaskular. Sebuah tinjauan yang dipublikasikan dalam Journal of Hepatology pada awal 2026 menegaskan bahwa penyebab kematian tersering pada penderita MASLD adalah kejadian jantung dan pembuluh darah, bukan sirosis atau kanker hati.
Beberapa penelitian observasional menunjukkan bahwa penderita perlemakan hati memiliki risiko penyakit kardiovaskular yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang tanpa perlemakan hati. Risiko tersebut dapat semakin meningkat apabila perlemakan hati disertai faktor risiko metabolik lainnya, seperti obesitas, tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, dan kolesterol tinggi.
Mengapa Hati yang Bermasalah Bisa Menyakiti Jantung?
Hubungan hati dan jantung dijembatani oleh beberapa mekanisme biologis yang saling terkait, sebagaimana dijelaskan dalam kajian ilmiah di jurnal Atherosclerosis pada 2025:
Hubungan hati dan jantung dijembatani oleh beberapa mekanisme biologis yang saling terkait, sebagaimana dijelaskan dalam kajian ilmiah di jurnal Atherosclerosis pada 2025:
- Resistensi insulin : hati yang berlemak membuat tubuh semakin sulit merespons insulin, sehingga gula darah dan lemak darah cenderung meningkat.
- Peradangan kronis tingkat rendah : hati yang meradang melepaskan zat-zat inflamasi ke aliran darah yang dapat merusak dinding pembuluh darah dari waktu ke waktu.
- Dislipidemia aterogenik : hati yang terganggu memproduksi profil lemak darah yang “jahat” (kolesterol LDL kecil dan padat, trigliserida tinggi, kolesterol HDL rendah), yang mempercepat penumpukan plak di pembuluh darah.
- Disfungsi endotel : lapisan dalam pembuluh darah menjadi kurang lentur dan lebih mudah mengalami penyempitan (aterosklerosis).
Beberapa penelitian terbaru bahkan menemukan bahwa penanda peradangan dalam darah, seperti rasio neutrofil terhadap limfosit, dapat memprediksi risiko kematian akibat penyakit jantung pada penderita MASLD hampir sekuat penanda kerusakan hati itu sendiri. Ini menunjukkan betapa eratnya jalinan antara peradangan di hati dan kesehatan pembuluh darah jantung.
Menariknya, tingkat keparahan perlemakan hati juga berperan. Semakin berat fibrosis (jaringan parut) pada hati, semakin tinggi pula risiko gangguan jantung yang menyertainya, menegaskan bahwa menjaga hati tetap sehat sejak dini adalah investasi langsung bagi kesehatan jantung di masa depan.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Sayangnya, perlemakan hati pada tahap awal umumnya tidak menimbulkan gejala yang jelas, inilah sebabnya kondisi ini sering disebut sebagai “silent disease” atau penyakit yang diam-diam berkembang. Beberapa tanda yang kadang muncul antara lain:
- Mudah lelah tanpa sebab yang jelas.
- Rasa tidak nyaman atau penuh di perut bagian kanan atas.
- Hasil pemeriksaan darah menunjukkan kadar enzim hati (SGOT/SGPT) yang bisa sedikit meningkat.
Penilaian risiko metabolik dan pemeriksaan yang sesuai, seperti pemeriksaan gula darah, profil lipid, fungsi hati, serta pemeriksaan pencitraan bila diperlukan, dapat membantu mendeteksi dan mengevaluasi MASLD.
Melindungi Hati, Melindungi Jantung: Langkah Pencegahan
Kabar baiknya, perlemakan hati dan risiko jantung yang menyertainya sangat mungkin dicegah bahkan diperbaiki melalui perubahan gaya hidup. Kementerian Kesehatan RI melalui program CERDIK dan PATUH turut menekankan pentingnya langkah-langkah berikut, yang juga berlaku untuk menjaga kesehatan hati sekaligus jantung:
- Cek kesehatan secara rutin, termasuk gula darah, kolesterol, tekanan darah, dan fungsi hati.
- Enyahkan asap rokok — merokok mempercepat kerusakan pembuluh darah sekaligus memperberat kerja hati.
- Rajin aktivitas fisik, minimal 150 menit per minggu dengan olahraga intensitas sedang seperti jalan cepat, bersepeda, atau berenang.
- Diet seimbang — perbanyak sayur, buah, biji-bijian utuh, dan lemak sehat (minyak zaitun, alpukat, kacang-kacangan), serta batasi gula tambahan, garam, dan makanan olahan tinggi lemak jenuh.
- Istirahat cukup dan kelola stres, karena keduanya turut memengaruhi metabolisme lemak dan gula dalam tubuh.
Penelitian juga menunjukkan bahwa penurunan berat badan sebesar 5 hingga 10 persen dari berat badan awal dapat memberikan dampak bermakna, mulai dari menurunkan tekanan darah, memperbaiki kadar gula darah, hingga membantu mengurangi lemak yang menumpuk di hati. Dengan kata lain, menjaga berat badan ideal adalah salah satu langkah paling sederhana namun berdampak besar bagi kesehatan hati dan jantung sekaligus.
Pesan RS Kardiologi Emirates Indonesia
Momentum Hari Hati Sedunia menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan jantung tidak bisa dilepaskan dari menjaga kesehatan hati. Keduanya bekerja dalam satu jalinan metabolisme yang sama. Sebuah hati yang sehat adalah salah satu fondasi penting bagi jantung yang kuat.
RS Kardiologi Emirates Indonesia mengajak masyarakat untuk tidak menunggu gejala muncul. Lakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, terapkan pola hidup sehat sejak dini, dan konsultasikan kondisi hati maupun jantung Anda kepada tenaga medis profesional. Ingat pesan sederhana ini: “Hati-hati dengan hatimu, karena jantungmu ikut merasakannya.”
Daftar Pustaka
- Bhatt NK, Agarwal Y, Ramaswamy SN, Matam MB, Harikrishnan S, Chand S, Bhatt H, Malasevskaia I. Evidence From a Systematic Review of Non-alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD)/Metabolic Dysfunction-Associated Fatty Liver Disease (MASLD) Fueling Cardiovascular Risk. Cureus. 2025;17(8):e89355. doi:10.7759/cureus.89355.
- Cardiovascular Disease in the Context of Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD): A Comprehensive Narrative Review. PMC. 2025.
- Understanding MASLD — from molecular pathogenesis to cardiovascular risk: A concise review for the clinical cardiologist. Atherosclerosis. 2025.
- Cardiovascular risk in MASLD: What multiple lines of evidence reveal. Journal of Hepatology. 2026;83.
- Changing from NAFLD to MASLD: Prevalence and progression of ASCVD risk are similar between NAFLD and MASLD in Asia. Clinical and Molecular Hepatology (PMC). 2024.
- Ciardullo S. The MAFLD–MASLD debate: Does cardiovascular risk prediction define the winner? Liver International. 2024.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Cegah Penyakit Jantung dengan Menerapkan Perilaku CERDIK dan PATUH. 2023.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia — Direktorat Kesehatan Lansia. Modifikasi Gaya Hidup untuk Jantung Sehat. 2024.
- Metabolic dysfunction-associated fatty liver disease and cardiovascular disease outcomes: a meta-analysis and systematic review. PLOS One. 2025;doi:10.1371/journal.pone.0312650.
Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi kesehatan masyarakat awam dan tidak dimaksudkan sebagai pengganti konsultasi medis. Untuk pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut, silakan berkonsultasi dengan dokter di RS Kardiologi Emirates Indonesia
