RS Kardiologi Emirates Indonesia

Emergency Stroke: Setiap Menit Sangat Berharga

h
humas
26 Oktober 2026
5 Menit Baca
Emergency Stroke: Setiap Menit Sangat Berharga

Stroke sering datang tiba-tiba: wajah mencong, tangan lemas, atau bicara tidak jelas. Banyak keluarga memilih menunggu, memijat, atau mengerok terlebih dahulu. Padahal stroke adalah kondisi gawat darurat, sama mendesaknya dengan serangan jantung. Semakin cepat pasien ditangani, semakin besar peluang untuk pulih.

Seberapa Sering Stroke Terjadi?

Secara global, stroke merupakan penyebab kematian kedua dan penyebab kombinasi kematian-kecacatan ketiga terbanyak di. Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat prevalensi stroke sekitar 8,3 per 1.000 penduduk. Stroke juga menjadi penyebab utama kecacatan (11,2%) dan kematian (18,5%). Artinya, hampir semua keluarga berisiko bersinggungan dengan penyakit ini.

Apa Itu Stroke?

Stroke terjadi saat aliran darah ke sebagian otak terganggu. Ada dua jenis utama:

  1. Stroke iskemik (sumbatan): pembuluh darah otak tersumbat bekuan darah. Ini jenis yang paling sering.
  2. Stroke hemoragik (perdarahan): pembuluh darah otak pecah sehingga terjadi perdarahan di otak.

Keduanya terlihat mirip dari luar, tetapi pengobatannya sangat berbeda. Karena itu, pemeriksaan gambar otak wajib dilakukan sebelum pengobatan diberikan.

Kenali Tanda Stroke: BE-FAST

B – Balance : Hilang keseimbangan mendadak, pusing berputar, sulit berjalan

E – Eyes : Penglihatan kabur, ganda, atau hilang sebagian secara tiba-tiba

F – Face : Wajah atau mulut mencong, tidak simetris saat tersenyum

A – Arm : Lengan atau tungkai lemah/kesemutan, biasanya pada satu sisi tubuh

S – Speech : Bicara pelo, sulit berbicara, atau tidak memahami pembicaraan

T – Time : Catat jam gejala mulai, lalu segera ke IGD

Golden Period Stroke

Golden period adalah rentang waktu emas ketika pengobatan stroke iskemik paling efektif. Pada stroke sumbatan, obat pelarut bekuan darah (trombolisis) idealnya diberikan dalam 4,5 jam sejak gejala pertama muncul, dan hasilnya paling baik bila diberikan sedini mungkin. Dihitung sejak kapan? Sejak pasien terakhir terlihat normal, bukan sejak ditemukan.

Pedoman terbaru Amerika (2026) menegaskan bahwa pada pasien dengan gejala yang mengganggu aktivitas, pengobatan harus segera dimulai tanpa menunda untuk pemeriksaan tambahan. Pedoman ini juga membuka peluang bagi pasien terpilih yang datang 4,5 sampai 9 jam setelah gejala, atau yang waktu mulainya tidak diketahui (misalnya stroke saat tidur), asalkan hasil pencitraan otak menunjukkan masih ada jaringan otak yang dapat diselamatkan. Untuk sumbatan pembuluh darah besar, tindakan mengambil bekuan secara langsung (trombektomi) juga dapat dipertimbangkan pada pasien tertentu dalam waktu lebih panjang.

Pesan utamanya: jangan mengandalkan perpanjangan waktu ini. Peluang terbaik tetap ada pada jam-jam pertama.

Apa Itu Code Stroke?

Code Stroke adalah sistem respons cepat di rumah sakit untuk pasien yang dicurigai stroke. Begitu pasien tiba atau bahkan sebelum tiba jika ambulans/keluarga sudah memberi kabar, tim stroke langsung diaktifkan agar tidak ada waktu terbuang. Alurnya secara umum:

  1. Triase cepat di IGD dan aktivasi tim stroke (dokter IGD, dokter saraf, perawat, radiologi, laboratorium).
  2. Pemeriksaan neurologis singkat dan cek gula darah, karena gula darah rendah dapat meniru gejala stroke.
  3. Pemeriksaan gambar otak (CT Scan atau MRI) untuk memastikan jenis stroke dan menilai kelayakan terapi.
  4. Pemeriksaan darah dan EKG yang dilakukan bersamaan, bukan bergantian, agar lebih hemat waktu.
  5. Keputusan terapi: obat pelarut bekuan, tindakan trombektomi/rujukan, atau penanganan perdarahan, sesuai hasil pemeriksaan.

Layanan MRI dan CT Scan RS KEI dalam Code Stroke

Gambar otak adalah “mata” dokter dalam menangani stroke. RS KEI mendukung alur Code Stroke dengan layanan CT Scan dan MRI.

  1. CT Scan: cepat dan menjadi langkah pertama. Pemeriksaan hanya memakan waktu singkat dan mampu membedakan stroke perdarahan dari stroke sumbatan. Ini penting karena obat pelarut bekuan darah berbahaya bila diberikan pada pasien dengan perdarahan otak. Dengan tambahan CT angiografi, dokter dapat melihat letak sumbatan pembuluh darah dan menilai perlunya tindakan lanjutan.
  2. MRI: lebih peka untuk kasus sulit. MRI dapat mendeteksi stroke sumbatan yang masih sangat awal atau berukuran kecil, termasuk di batang otak dan bagian belakang otak yang sering tidak jelas pada CT. MRI juga membantu menentukan apakah masih ada jaringan otak yang dapat diselamatkan pada pasien yang waktu mulai gejalanya tidak pasti, sehingga pasien tersebut tetap berpeluang mendapat terapi.

Pemilihan CT atau MRI disesuaikan dengan kondisi pasien oleh dokter. Prinsipnya, pemeriksaan harus secepat mungkin dan tidak boleh menunda terapi pada pasien yang jelas memenuhi syarat.

Yang Harus Dilakukan Keluarga

  1. Catat jam gejala pertama muncul atau terakhir kali pasien terlihat normal.
  2. Segera bawa ke IGD rumah sakit terdekat yang memiliki layanan Code Stroke. Hubungi ambulans bila perlu.
  3. Katakan “curiga stroke” kepada petugas agar Code Stroke segera diaktifkan.
  4. Bawa daftar obat yang dikonsumsi pasien, terutama obat pengencer darah, serta catatan penyakit seperti hipertensi dan diabetes.

Hindari: memberi makan atau minum (risiko tersedak), mengerok, menusuk jari, memberi ramuan, atau menunggu pasien tidur dahulu.

Ingat: Time is Brain. Setiap menit yang terlewat berarti semakin banyak sel otak yang rusak. Jika ada tanda stroke, jangan menunggu gejala hilang sendiri. Segera bawa ke IGD rumah sakit yang memiliki layanan Code Stroke.

Pencegahan Itu Lebih Baik

Kendalikan tekanan darah, gula darah, dan kolesterol; berhenti merokok; aktif bergerak; serta periksa kesehatan secara rutin. Hipertensi adalah faktor risiko terbesar yang dapat dikendalikan. Aktivitas fisik juga dianjurkan Kementerian Kesehatan untuk mencegah stroke.

Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter. Bila ada tanda stroke, segera ke IGD.

Daftar Pustaka

1. Prabhakaran S, Gonzalez NR, Zachrison KS, et al. 2026 Guideline for the Early Management of Patients With Acute Ischemic Stroke: A Guideline From the American Heart Association/American Stroke Association. Stroke. 2026 (terbit daring 26 Januari 2026). doi:10.1161/STR.0000000000000513

2. Feigin VL, Brainin M, Norrving B, et al. World Stroke Organization (WSO): Global Stroke Fact Sheet 2022. Int J Stroke. 2022;17(1):18–29. doi:10.1177/17474930211065917

3. López-Rueda A, Ibáñez Sanz L, Alonso de Leciñana M, et al. Recommendations on the use of computed tomography in the stroke code: Consensus document SENR, SERAU, GEECV-SEN, SERAM. Radiología. 2023;65(2):180–191. doi:10.1016/j.rx.2022.11.007

4. Berge E, Whiteley W, Audebert H, et al. European Stroke Organisation (ESO) guidelines on intravenous thrombolysis for acute ischaemic stroke. Eur Stroke J. 2021;6(1):I–LXII. doi:10.1177/2396987321989865

5. Kementerian Kesehatan RI. Cegah Stroke dengan Aktivitas Fisik (data Survei Kesehatan Indonesia 2023). Siaran Pers, 25 Oktober 2024. sehatnegeriku.kemkes.go.id

Bagikan Artikel: